Polemik Paskah Nasional 2018, GMKI Serukan Kesatuan Lembaga Keumatan Kristiani

Polemik Paskah Nasional 2018, GMKI Serukan Kesatuan Lembaga Keumatan Kristiani

Medan, Liputansumut.com, (Sumut) – Sumatera Utara menjadi Tuan Rumah Perayaan Paskah Nasional 2018. Kegiatan tersebut akan diselanggarakan pada 20 April hingga 28 April 2018 dan puncak kegiatan akan dilaksanakan di kawasan Danau Toba tepatnya di Kabupaten Tobasa dan diperkirakan dihadiri oleh ribuan warga jemaat dari berbagai denominasi gereja.

Namun terjadi polemik dalam pelaksanaan paskah tersebut. Pimpinan dari beberapa lembaga keumatan seperti Persekutuan Gereja-geraja di Indonesia (PGI), Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta di Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja-gereja dan lembaga Injili Indonesia ( PGLII) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengeluarkan sikap penolakan untuk menghadiri perayaan Paskah Nasional 2018 dan meminta klarifikasi atas pencatutan nama-nama pimpinan PGI, PGPI, PGLII dan KWI dalam kepanitian Paskah. Sikap tersebut tercantum dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh keempat lembaga tersebut per tanggal 23 Februari 2018 perihal Paskah Nasional 2018.

Merespon polemik tersebut, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) menilai bahwa tidak ada kesatuan diantara lembaga-lembaga keumatan kristiani didalam perayaan Paskah Nasional . Hal tersebut disampaikan oleh Hendra Leonardo Manurung selaku Ketua Cabang GMKI Medan.

“ Seharusnya esensi paskah adalah kesatuan dan kebersamaan sebagai perwujudan kasih Tuhan Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib dan bangkit untuk menebus dosa manusia. Inilah yang seharusnya dijadikan spirit penyelenggaraan Paskah tersebut, bukan malah mempertontonkan ego-ego antar lembaga. Eksistensi kemuliaan Tuhan yang utama, bukan eksistensi lembaga,” ujar Hendra saat ditemui di sekretariat PKM GMKI Medan, Jalan Iskandar Muda No 107 A. Rabu (4/4/2018).

Hal senada juga dikemukan oleh Swangro Lumbanbatu selaku Koordinator Wilayah I Sumut-Aceh PP GMKI. Dia mengatakan bahwa Panitia Paskah Nasional 2018 seharusnya mengayomi semua lembaga keumatan sebagai bentuk kesatuan di tubuh umat kristiani.

“Ini lucu sebenarnya. Kita ingin memuliakan nama Tuhan melalui perayaan paskah, namun yang terjadi malah pencatutan dari pihak yang satu dan penolakan keterlibatan dari pihak yang satunya lagi. Bagaimana Tuhan dipermuliakan sedangkan dalam perjalanannya dipenuhi sungut-sungut. Apa salahnya duduk bersama membicarakan kebaikan dan kesuksesan acara ini. Wujudkan persekutuan yang saling membangun,” ucap Swangro.

Swangro menambahkan, GMKI mengapresiasi terpilihnya Sumatera Utara sebagai Tuan Rumah Paskah Nasional Tahun 2018 kiranya berdampak bagi kesatuan dan kebersamaan khususnya umat kristiani dan warga Sumatera Utara pada umumnya.

“ Kiranya Paskah Nasional 2018 yang diselenggarakan di Sumatera Utara dapat berjalan dengan baik untuk kemuliaan Sang Empunya Kehidupan ini dan kesatuan bagi umat manusia,” tutupnya.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan